Saking
barunya, nama partikel yang bermuatan sama dengan positron ini pun masih belum
disepakati. Sebagian fisikawan masih menyebutnya sebagai partikel Z+, sementara
akhir-akhir ini kebanyakan menyatakannya sebagai Theta+ atau partikel eksotik
pentaquark (lima quark). Meski tidak dilarang oleh Model Standar yang secara
resmi dianut oleh semua fisikawan, keberadaan partikel pentaquark selama ini
sulit dideteksi. Namun, kemajuan pesat di dunia akselerator serta semakin
canggihnya detektor partikel saat kini mengakhiri perburuan partikel yang telah
diramalkan sejak sekitar 30 tahun lalu. Penemuan ini tentu saja memiliki
konsekuensi serius pada pandangan umat manusia terhadap alam semesta, karena
selama ini quark yang merupakan bahan dasar penyusun jagad raya diketahui hanya
dapat membentuk partikel sub-atomik dalam kombinasi dua atau tiga quark
saja.
Apakah
Quark Itu?
Semula quark diramalkan oleh Murray Gell-mann dan George Zweig sebagai
partikel fundamental pada tahun 1964. Nama quark dipilih oleh Gell-Mann. Nama
ini muncul dalam novel karya James Joyce berjudul Finnegan’s Wake pada satu
kalimat : “three quarks for Muster Mark”. Ide ini sangat revolusioner
karena memperkenalkan sub-partikel baru yang bermuatan +2/3 dan -1/3
muatan proton. Namun pada mulanya ia hanya dianggap sebagai partikel fiksi
matematik karena quark tidak pernah berada dalam keadaan bebas. Quark hanya
dapat hidup di dalam partikel-partikel subatomik seperti proton, netron, atau
pion. Gaya kuat yang mengikat quark di dalam partikel tersebut akan bertambah
besar jika kita ingin mengeluarkannya. Meski demikian, hasil-hasil eksperimen
selama hampir 40 tahun terakhir telah memperlihatkan bahwa keberadaan quark
bukan lagi hal yang mustahil.
Hingga saat ini telah dikenal enam jenis quark yang diberi nama up, down,
strange, charm, bottom, dan top (u, d, s, c, b dan t). Bersama-sama dengan
lepton dan partikel interaksi (gauge-boson), ke-enam jenis quark tersebut
menyusun jagad raya yang kita tempati ini, termasuk diri kita sendiri. Dua
quark yang paling ringan adalah quark up dan down. Keduanya merupakan konsituen
proton dan netron yang membangun mayoritas isi jagad raya.
Quark jenis ketiga disebut quark strange (aneh) karena quark ini selalu
terdapat pada partikel-partikel yang memiliki bilangan keanehan seperti kaon
dan hyperon.
Pada tahun 1974 di pusat akselerator linier Stanford (SLAC) ditemukan quark
charm di dalam suatu partikel baru yang disebut Psi. Secara simultan di
laboratorium nasional Brookhaven quark jenis ini ditemukan dalam partikel yang
mereka sebut sebagai J. Partikel yang kini dikenal sebagai partikel J/\Psi
ini adalah kombinasi dari quark charm dan anti-charm (cc).
Quark jenis kelima adalah beauty atau bottom yang pertama kali
teridentifikasi di laboratorium nasional Fermi (Fermilab) pada tahun
1977. Di tempat yang sama pada tahun 1995 ditemukan quark jenis terakhir
yang diberi nama top atau truth. Jenis ini merupakan quark yang paling masif,
beratnya sekitar 190 kali berat sebuah proton.
Partikel
eksotik pentaquark disusun oleh dua quark up, dua quark down, serta satu quark
anti-strange. Kombinasi uudds ini menghasilkan muatan yang sama dengan muatan
proton, namun memiliki bilangan keanehan satu, serta identik dengan sistem
partikel kaon positif dan netron K+n . Tidaklah
mengherankan, jika dalam publikasi mereka, kolaborasi SPRING-8 menyatakan bahwa
penemuan mereka dapat diterjemahkan sebagai sistem quark uudds atau sistem
partikel k*n.
Di
laboratorium SPRING-8 partikel pentaquark diamati melalui rangkaian percobaan
sebagai berikut. Seberkas sinar laser dihamburkan pada berkas elektron yang
memiliki energi 8 giga elektronvolt yang bersirkulasi dalam sebuah sinkrotron.
Hamburan ini menghasilkan foton dengan energi cukup tinggi yang selanjutnya
ditumbukkan pada sebuah target berisi karbon. Hasil dari tumbukan ini adalah
kaon bermuatan negatif, proton, partikel pentaquark yang dalam waktu yang cukup
singkat (antara 10 – 20 detik) akan meluruh menjadi sebuah kaon bermuatan
positif dan sebuah netron, serta sisa-sisa tumbukan lainnya. Semua partikel
yang dihasilkan ditangkap oleh detektor seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Keberadaan
partikel pentaquark ditunjukkan oleh suatu peak (puncak)
pada distribusi spektrum massa yang hilang di dalam proses. Fenomena ini sering
dijumpai pada kasus penelitian partikel resonansi baryon, namun lebar dari peak
pada kasus pentaquark jauh lebih kecil dibandingkan dengan partikel resonansi.
Pada kasus pentaquark lebar peak hanya sekitar 20 mega elektronvolt, sedangkan
untuk resonansi baryon dapat mencapai 500 mega elektronvolt. Konsekuensinya,
partikel pentaquark dapat hidup lebih lama (10 – 20 detik) dibandingkan dengan
partikel resonansi baryon (sekitar 10-10 detik).
Di
laboratorium Jefferson, Virginia, para eksperimentator menggunakan foton hasil
proses bremstrahlung dari berkas elektron berenergi
kinetik tinggi. Foton tersebut ditembakkan pada target yang berupa deuteron.
Hasil tumbukan ini adalah sebuah proton, kaon bermuatan negatif, serta
partikel pentaquark. Seperti pada kasus sebelumnya, partikel pentaquark akan
segera meluruh dan dideteksi oleh detektor CLAS. Proses ini dilukiskan pada
gambar 2 yang jelas lebih sederhana dibandingkan dengan proses sebelumnya.
Dalam kasus ini keberadaan partikel pentaquark ditunjukkan oleh suatu peak pada distribusi massa invarian sistem
partikel k*n.
Saat ini, topik penelitian partikel pentaquark merupakan topik yang sangat “panas”. Puluhan paper hasil penelitian teoretis segera muncul dalam waktu singkat setelah eksperimen pertama dikonfirmasi. Beberapa eksperimen untuk memproduksi partikel ini juga telah diusulkan, yaitu melalui tumbukan antara kaon dan nukleon, foton dengan proton, dan lain-lain.
Sumber : Penemuan
Partikel Eksotik Pentaquark


Komentar
Posting Komentar